Enabling Businesses
for a Net-Zero Future

Carbon Addons is a climate technology company committed to making climate action effortless and accessible. We empower individuals, businesses, organizations, and governments to transition toward a low-carbon, regenerative economy through technology, education, consulting, and immersive experiences.

Key Features

Explore how you can measure, reduce, and offset your emissions today.

Real-Time Carbon Offset API & IoT Emissions Tracking
Personalized Carbon Calculator for Individuals and Organizations
Carbon Academy: Learn, Certify, Lead
ESG & Carbon Consulting Services
Sustainability Learning & Cultural Experiences
Who We Are

Who We Are

Founded with a mission to integrate sustainability into everyday life, Carbon Addons combines digital innovation with strategic consulting and education to accelerate the shift toward net-zero.

Climate Justice
Innovation
Integrity
Community Empowerment

3.65

million IDR Micro-climate funds channeled

200

trees planted

18.26

tonne of CO2e reduction

3

local communities empowered

Latest From Our Blog

Read insights, articles, and guides on climate tech, carbon neutrality, and best practices.

Menyiapkan Green Career Masa Depan: Inisiatif GROW Gelar Webinar untuk Mempersiapkan Mahasiswa di Sektor Pertanian Berkelanjutan
Carbon Academy
Menyiapkan Green Career Masa Depan: Inisiatif GROW Gelar Webinar untuk Mempersiapkan Mahasiswa di Sektor Pertanian Berkelanjutan

Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan paling krusial bagi keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional. Merespon hal tersebut, proyek sosial GROW (Green Jobs in Agriculture for Resilient Opportunities & Workforce) hadir menyelenggarakan webinar “From Campus to Climate Action: Building Your Green Career in Sustainable Agriculture” pada Sabtu (8/8/2026). Antusiasme generasi muda terlihat dari hadirnya lebih dari 300 mahasiswa lintas perguruan tinggi di Indonesia yang siap mengeksplorasi peluang karier hijau (green jobs) pada sektor pertanian berkelanjutan. Keberhasilan transisi Indonesia menuju ekonomi hijau berkarbon rendah sangat ditentukan oleh kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Namun, tingginya kebutuhan industri terhadap talenta berwawasan lingkungan saat ini masih dihadapkan pada tantangan kesenjangan kompetensi (skill gap) dari lulusan perguruan tinggi. Melalui program GROW, mahasiswa diajak untuk tidak hanya mengenali lanskap peluang karier hijau, tetapi juga memetakan langkah strategis dalam membangun portofolio yang relevan.Inisiatif GROW digagas oleh peserta Learning Group 8 Carbon Academy Vol. 3 yang diselenggarakan oleh Carbon Addons. Carbon Academy adalah program capacity-building yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi generasi muda sebagai talenta green jobs, mendorong penerapan praktik keberlanjutan (best practices) di berbagai sektor industri, serta memperluas kolaborasi dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau. Berkolaborasi dengan Youth for Sustainable Agriculture Banyumas (YSAB), GROW memanfaatkan kampanye media sosial, edukasi interaktif, hingga pendampingan karier untuk menjangkau mahasiswa lintas disiplin ilmu.Tantangan Global 2050 dan Pengembangan Potensi Generasi MudaDalam sesi paparan materi, Adhitya Herwin Dwiputra, Founder Aku Petani Indonesia yang juga menjabat sebagai Area Manager Provinsi Jawa Barat PT Pupuk Indonesia, menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi proyeksi pangan masa depan. "Secara forecast pada tahun 2050, penduduk dunia akan bertambah secara signifikan, sementara faktor produksi pertanian dihadapkan pada cuaca dan iklim yang kian ekstrem. Beriringan dengan hal tersebut, potensi sektor pertanian sangatlah besar seiring pertumbuhan populasi tersebut," ujar Adhitya.Adhitya membagikan pengalaman Aku Petani Indonesia (berdiri sejak 2016) dalam menggerakkan pemuda lewat program Petani Muda: Ogan Ilir Bangkit. Program ini memfasilitasi generasi muda berlatar belakang budidaya pertanian untuk mengaplikasikan teknologi tepat guna berjiwa agropreneur, mulai dari diskusi pakar, seminar, hingga praktik budidaya.Untuk menembus industri green jobs di sektor pertanian, Adhitya membagikan beberapa langkah kunci yang perlu disiapkan mahasiswa. Dimulai dari aktif berorganisasi di kampus, menjadi relawan, melakukan riset, mengikuti program magang (internship), mengambil sertifikasi, serta membangun jejaring yang perlu dilakukan secara konsisten sejak di bangku kuliah. Selain penguasaan kompetensi hard skill, kemampuan di bidang komunikasi & edukasi, community engagement, pembuat konten digital, program & project management, serta kemitraan (partnership) juga dibutuhkan dalam green jobs di industri pertanian. Inklusivitas Green Jobs: Lulusan Non-Pertanian Bisa BerkontribusiSesi berikutnya menghadirkan Siti Aisyah, Co-Founder dan Chairperson Sobat Petani Lestari, yang menegaskan bahwa peluang karier di sektor pertanian terbuka luas bagi siapa saja tanpa dibatasi oleh latar belakang keilmuan. "Lulusan non-pertanian tetap bisa berkarier di bidang pertanian. Hal ini dapat dimulai dari langkah-langkah kecil hingga berkembang menjadi aksi nyata yang lebih besar," ungkap Siti Aisyah.Aisyah menceritakan perjalanan Sobat Petani Lestari sejak berdiri pada tahun 2020 yang menjadi titik balik di tengah pandemi. Pada 2023, pihaknya merintis model pertanian sirkular berupa layanan pengolahan sampah organik restoran menjadi kompos di wilayah Bandung. Inovasi terus berkembang hingga melahirkan "Lalab Project" pada 2024 yang berfokus pada edukasi pangan lokal, budidaya hortikultura berkelanjutan, kolaborasi program bersama NGO, dan agroeduwisata. Teranyar, pada 2025 diluncurkan inisiatif CAI (Climate Agriculture Integration) untuk menginstalasi panel surya guna mendukung operasional pertanian ramah lingkungan. Aisyah memberikan tiga tips praktis bagi generasi muda yang ingin terjun ke industri pertanian berkelanjutan yaitu dapat dimulai dari rumah dengan belajar menanam sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan mandiri. Kemudian, jangan hanya bergantung pada hasil lahan, tetapi mencoba diversifikasi usaha untuk menjaga ketahanan finansial usaha. Tips selanjutnya adalah mengombinasikan peran sebagai petani sekaligus entrepreneur yang adaptif terhadap dinamika pasar.Menuju Transisi Pertanian BerkelanjutanMelalui kolaborasi antara Carbon Academy, YSAB, serta praktisi industri dan komunitas, program GROW diharapkan dapat terus memperkecil kesenjangan antara dunia akademik dan industri. Dengan pembekalan skill dan wadah pendampingan yang tepat melalui program webinar dan career coaching, mahasiswa diyakini mampu mengambil peran aktif sebagai talenta hijau dalam mewujudkan transisi pertanian berkelanjutan di Indonesia.Tentang PenyelenggaraGROW (Green Jobs in Agriculture for Resilient Opportunities & Workforce) adalah proyek sosial dari Learning Group 8 Carbon Academy Vol. 3 yang berkolaborasi dengan YSAB (Youth for Sustainable Agriculture Banyumas).Carbon Academy merupakan program capacity-building dari Carbon Adds On yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi generasi muda sebagai talenta green jobs, mendorong penerapan praktik keberlanjutan di berbagai sektor industri, serta memperluas kolaborasi transisi ekonomi hijau.Informasi Lebih Lanjut: growgreenjob@gmail.com

Dari Fondasi ke Aksi Nyata: Perjalanan Peserta Carbon Academy Vol. 3 Menuju Pekerjaan Hijau Impian
Carbon Academy
Dari Fondasi ke Aksi Nyata: Perjalanan Peserta Carbon Academy Vol. 3 Menuju Pekerjaan Hijau Impian

Sebanyak 60 peserta Carbon Academy Volume 3 (CA Vol.3) baru saja menyelesaikan fase I dan II, yaitu rangkaian Workshop Green Jobs Preparation yang dimulai sejak bulan Mei hingga Juni 2026. Selama lima minggu, peserta mengikuti berbagai workshop yang dirancang untuk membangun pemahaman dasar tentang Sustainable Development, krisis iklim, serta persiapan menghadapi peluang karier di sektor hijau. Peserta yang telah dibagi ke dalam lima learning track—sustainable energy transition, sustainable tourism, circular economy & waste management, climate advocacy & green communication, serta sustainable agriculture & aquaculture—didampingi oleh fasilitator dan mendapat bimbingan dari mentor yang merupakan praktisi maupun ahli di bidang masing-masing.  Memahami SDGs dan Perubahan Iklim sebagai Langkah AwalSustainable Development Goals (SDGs), un.orgIntroduction to Sustainable Development Goals (SDGs) dan Aksi Iklim mengawali fase foundation CA Vol.3. Kedua topik ini menjadi landasan untuk membangun pemahaman mengenai bagaimana pembangunan berkelanjutan, yang tercermin dalam 17 tujuan SDGs, berkaitan erat dengan perubahan iklim dan transformasi menuju ekonomi hijau baik dalam tatanan global maupun nasional. Untuk mendukung pencapaian SDGs di Indonesia, kolaborasi dan keterlibatan lintas sektor sangat penting. Tidak hanya untuk mengejar target pembangunan, tetapi juga untuk memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa ada yang tertinggal. Di sinilah green jobs memiliki peran strategis dalam mendukung ekonomi hijau melalui perlindungan dan pemulihan ekosistem, peningkatan efisiensi energi dan sumber daya, pengurangan limbah dan polusi, serta penurunan emisi. Melalui sesi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai keterkaitan antara isu lingkungan, sosial, dan ekonomi, sekaligus melihat bagaimana pekerjaan hijau dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Kedua topik tersebut menjadi bekal untuk membangun fondasi sebelum peserta mulai merencanakan perjalanan karier mereka di sektor hijau. Merancang Jalur Karir Di Sektor HijauSeiring dengan berkembangnya ekonomi hijau, kebutuhan terhadap talenta yang memiliki kompetensi di bidang keberlanjutan juga semakin meningkat. Green jobs tidak lagi terbatas pada profesi di sektor lingkungan atau energi terbarukan. Posisi seperti komunikasi, marketing, hingga pariwisata juga termasuk bagian dari pekerjaan hijau. Melalui workshop Green Career Planning pada fase II, peserta diajak memahami bahwa prinsip sustainability sangat relevan di hampir semua sektor pekerjaan. Peluang kontribusi dalam pekerjaan hijau terbuka untuk semua kalangan dari berbagai latar belakang. Yang dibutuhkan adalah kombinasi keterampilan teknis, interpersonal, manajerial, serta pemahaman terhadap isu-isu keberlanjutan.Pada sesi ini, peserta mengidentifikasi jalur pekerjaan hijau yang sesuai dengan minat dan potensi masing-masing. Dimulai dari mengenali potensi melalui analisis SWOT, yang kemudian menjadi dasar dalam menyusun green career plan. Rencana tersebut memuat tujuan karier, kompetensi yang perlu dikembangkan, rencana jangka pendek dan jangka panjang, serta langkah-langkah strategis untuk mencapainya. Selanjutnya, setiap peserta mempresentasikan rencana karier mereka di hadapan para mentor untuk mendapatkan saran yang konstruktif. Proses ini tidak hanya membantu peserta memetakan jalur karier yang sesuai dengan minat dan potensinya, tetapi juga memberikan gambaran mengenai keterampilan yang perlu dipersiapkan untuk mencapai pekerjaan impian mereka. Sebagai penutup rangkaian workshop, peserta dibekali dengan keterampilan praktis untuk menghadapi proses rekrutmen dan seleksi. Melalui sesi ini, peserta belajar menyusun CV yang relevan dengan posisi yang dituju, mengomunikasikan pengalaman, kemampuan, dan minat, serta mempersiapkan diri menghadapi proses wawancara. Sesi ini menjadi pelengkap dari pengenalan SDGs, perubahan iklim, dan rencana karier hijau yang sudah disusun sebelumnya. Dengan demikian, peserta diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik untuk memasuki maupun bertransisi ke sektor pekerjaan hijau. Melangkah ke Fase BerikutnyaSelesainya fase I dan II menjadi penanda dalam perjalanan Carbon Academy volume 3. Dengan bekal yang didapat, peserta bersiap memasuki fase III: Action melalui Greenternship dan pembuatan proyek sosial. Fase III menjadi ruang bagi peserta untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dari fase I dan II. Melalui program Greenternship, peserta berkesempatan mengasah keterampilan sekaligus memperoleh pengalaman langsung di bidang pekerjaan hijau bersama perusahaan maupun organisasi mitra Carbon Academy. Selain itu, peserta yang tergabung dalam kelompok mentoring track juga akan berkolaborasi dalam merancang dan melaksanakan proyek sosial yang berfokus pada isu keberlanjutan untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Kesempatan ini diharapkan menjadi jembatan antara proses pembelajaran dengan praktik dan kontribusi nyata di dunia kerja, sekaligus memperkuat kesiapan peserta CA Vol.3 untuk berkontribusi dalam mendorong ekonomi hijau dan mewujudkan masa depan yang lebih berkelanjutan. Dua fase dari Carbon Academy Volume 3 sudah terlewati, namun perjalanan untuk belajar, bertumbuh, dan berkontribusi peserta Carbon Academy Volume 3 masih terus berlanjut. Ikuti terus perkembangan kegiatan peserta CA Vol.3 melalui media sosial Carbon Academy untuk melihat bagaimana aksi nyata peserta dalam proyek sosial dan berbagai kegiatan CA Vol. 3 lainnya.

Scaling Impact: How East Java’s SMEs Are Becoming Leaders in the Low Carbon Economy
1000 LCBM
Scaling Impact: How East Java’s SMEs Are Becoming Leaders in the Low Carbon Economy

The transition to a net-zero economy is no longer a distant goal, but it has become the new standard for business competitiveness. In East Java, a vibrant hub of industry and innovation, a pivotal shift is underway. Carbon Addons, in collaboration with the East Java Provincial Office of Industry and Trade and the Youth Empowerment in Climate Action Platform (YECAP), has successfully concluded the Low Carbon SMEs Accelerator (LCBA), a landmark program empowering 13 visionary Small and Medium Enterprises (SMEs) to transform climate risk into business resilience.Fig 1. Participants of the Low Carbon SMEs AcceleratorThis initiative is a critical local implementation of the 1000 Low Carbon Brand Movement, designed to bridge the gap between intent and action. For SMEs often burdened by technical complexity and high costs, the LCBA provides a clear, accessible roadmap to measure, reduce, and communicate their carbon footprint.From Carbon Literacy to Strategic ActionThe accelerator journey was built on a rigorous, three-phase framework, taking participants from basic awareness to verified climate leadership:Phase 1: Foundations & Measurement: Participants utilized the proprietary Carbon Annalist platform to move beyond guesswork, quantifying their Scope 1, 2, and 3 emissions. By establishing accurate carbon baselines, these businesses identified their emission hotspots—the first step toward meaningful reduction.Phase 2: Target Setting & Leadership: Participants moved into strategy, adopting the Science-Based Targets initiative (SBTi) methodology to set ambitious, time-bound climate goals. They also embraced the Ambition, Action, Advocacy (AAA) framework, weaving climate leadership into their organizational DNA.Phase 3: Reduction Strategies & Disclosure: The final stage focused on execution. Through Workshop 3, led by Winda Yuantika (Project Manager, Azeus Ltd.), participants learned to apply the Mitigation Hierarchy and MACC (Marginal Abatement Cost Curve) frameworks. These tools allowed them to prioritize cost-effective initiatives, such as energy optimization and supply chain restructuring, ensuring that sustainability contributes directly to their bottom line.Validating Credibility: The Low Carbon Brand DisclosureThe program culminated in the Low Carbon Brand Disclosure Presentation, where participants pitched their climate roadmaps to expert reviewers, including Adi Reza Nugroho (CEO, MYCL) and Arlieza Raudhah Riyanto (ESG Domain Specialist, Azeus Ltd.).In this presentation, participants synthesized their measurement, target setting, and reduction planning into a transparent disclosure document. Validated by industry experts, this process ensures that their climate narratives are scientifically credible, operationally feasible, and resilient against the risks of greenwashing.Fig 2. Presentation from House of Diamonds IndonesiaCelebrating East Java’s Climate PioneersThe LCBA program achieved significant milestones, successfully transforming 13 business participants into climate-conscious leaders. Throughout the journey, participants recorded a total of 2,593.78 tCO2e using the Carbon Annalist platform, set 13 ambitious SBTi targets for future-proof growth, and successfully completed 13 Low Carbon Brand Disclosures.Fig 3. Top Performers of the Low Carbon SMEs AcceleratorWe are proud to recognize the 13 businesses that committed to this transformation:Agatha, Baratie Makmur Semesta, Dirsinata, Dus Duk Duk (PT. Kreasi Karya Raya), Gischa, House of Diamonds-Indonesia, PELANUSA, PT Hacava Agritech Nusantara, PT. Arthawenasakti Gemilang, THE HOMEMADE, UD BEKAL, Upject, and Yu' Sa.While every participant demonstrated incredible growth, we extend a special commendation to our Top 3 Performers: Dus Duk Duk, House of Diamonds Indonesia, and Baratie Makmur Semesta. Their commitment to robust data and actionable roadmaps sets a powerful benchmark for SMEs across the region.The Path ForwardThe success in Surabaya proves that the barrier for our SMEs is not a lack of will, but a lack of accessible infrastructure. By equipping businesses with digital tools and practical mentoring, Carbon Addons is proving that sustainability is a powerful engine for growth.As we look to the future, the mandate is clear that the shift to a low-carbon economy is an opportunity to lead, not just comply. We invite all industry leaders, SMEs, and policymakers to join us in this movement. Let us build a future where every Indonesian brand is a Low Carbon Brand—competitive, resilient, and ready for the world.Are you ready to future-proof your business? Join the movement and start your low-carbon journey today.Contact us at +62 812-6570-0812 (WhatsApp) or email info@carbonaddons.id.Follow our journey on Instagram: @carbonaddons.id

Our Partners and Clients

Collaborated with 100+ institutions ranging from Government, Corporate, University, Community, NGO, and Media

Pemerintah Kota Surabaya Pemerintah Kota Surabaya
Pertamina Foundation Pertamina Foundation
Asian Development Bank
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Institut Pertanian Bogor
United Nations Development Programme
ANGIN ANGIN
Good News From Indonesia Good News From Indonesia
Sebumi Sebumi
Save the Children Save the Children

Stay Updated

Subscribe to our newsletter to receive the latest updates