Menyiapkan Green Career Masa Depan: Inisiatif GROW Gelar Webinar untuk Mempersiapkan Mahasiswa di Sektor Pertanian Berkelanjutan
Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan paling krusial bagi keberlanjutan sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional. Merespon hal tersebut, proyek sosial GROW (Green Jobs in Agriculture for Resilient Opportunities & Workforce) hadir menyelenggarakan webinar “From Campus to Climate Action: Building Your Green Career in Sustainable Agriculture” pada Sabtu (8/8/2026). Antusiasme generasi muda terlihat dari hadirnya lebih dari 300 mahasiswa lintas perguruan tinggi di Indonesia yang siap mengeksplorasi peluang karier hijau (green jobs) pada sektor pertanian berkelanjutan. Keberhasilan transisi Indonesia menuju ekonomi hijau berkarbon rendah sangat ditentukan oleh kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Namun, tingginya kebutuhan industri terhadap talenta berwawasan lingkungan saat ini masih dihadapkan pada tantangan kesenjangan kompetensi (skill gap) dari lulusan perguruan tinggi. Melalui program GROW, mahasiswa diajak untuk tidak hanya mengenali lanskap peluang karier hijau, tetapi juga memetakan langkah strategis dalam membangun portofolio yang relevan.Inisiatif GROW digagas oleh peserta Learning Group 8 Carbon Academy Vol. 3 yang diselenggarakan oleh Carbon Addons. Carbon Academy adalah program capacity-building yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi generasi muda sebagai talenta green jobs, mendorong penerapan praktik keberlanjutan (best practices) di berbagai sektor industri, serta memperluas kolaborasi dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau. Berkolaborasi dengan Youth for Sustainable Agriculture Banyumas (YSAB), GROW memanfaatkan kampanye media sosial, edukasi interaktif, hingga pendampingan karier untuk menjangkau mahasiswa lintas disiplin ilmu.Tantangan Global 2050 dan Pengembangan Potensi Generasi MudaDalam sesi paparan materi, Adhitya Herwin Dwiputra, Founder Aku Petani Indonesia yang juga menjabat sebagai Area Manager Provinsi Jawa Barat PT Pupuk Indonesia, menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi proyeksi pangan masa depan. "Secara forecast pada tahun 2050, penduduk dunia akan bertambah secara signifikan, sementara faktor produksi pertanian dihadapkan pada cuaca dan iklim yang kian ekstrem. Beriringan dengan hal tersebut, potensi sektor pertanian sangatlah besar seiring pertumbuhan populasi tersebut," ujar Adhitya.Adhitya membagikan pengalaman Aku Petani Indonesia (berdiri sejak 2016) dalam menggerakkan pemuda lewat program Petani Muda: Ogan Ilir Bangkit. Program ini memfasilitasi generasi muda berlatar belakang budidaya pertanian untuk mengaplikasikan teknologi tepat guna berjiwa agropreneur, mulai dari diskusi pakar, seminar, hingga praktik budidaya.Untuk menembus industri green jobs di sektor pertanian, Adhitya membagikan beberapa langkah kunci yang perlu disiapkan mahasiswa. Dimulai dari aktif berorganisasi di kampus, menjadi relawan, melakukan riset, mengikuti program magang (internship), mengambil sertifikasi, serta membangun jejaring yang perlu dilakukan secara konsisten sejak di bangku kuliah. Selain penguasaan kompetensi hard skill, kemampuan di bidang komunikasi & edukasi, community engagement, pembuat konten digital, program & project management, serta kemitraan (partnership) juga dibutuhkan dalam green jobs di industri pertanian. Inklusivitas Green Jobs: Lulusan Non-Pertanian Bisa BerkontribusiSesi berikutnya menghadirkan Siti Aisyah, Co-Founder dan Chairperson Sobat Petani Lestari, yang menegaskan bahwa peluang karier di sektor pertanian terbuka luas bagi siapa saja tanpa dibatasi oleh latar belakang keilmuan. "Lulusan non-pertanian tetap bisa berkarier di bidang pertanian. Hal ini dapat dimulai dari langkah-langkah kecil hingga berkembang menjadi aksi nyata yang lebih besar," ungkap Siti Aisyah.Aisyah menceritakan perjalanan Sobat Petani Lestari sejak berdiri pada tahun 2020 yang menjadi titik balik di tengah pandemi. Pada 2023, pihaknya merintis model pertanian sirkular berupa layanan pengolahan sampah organik restoran menjadi kompos di wilayah Bandung. Inovasi terus berkembang hingga melahirkan "Lalab Project" pada 2024 yang berfokus pada edukasi pangan lokal, budidaya hortikultura berkelanjutan, kolaborasi program bersama NGO, dan agroeduwisata. Teranyar, pada 2025 diluncurkan inisiatif CAI (Climate Agriculture Integration) untuk menginstalasi panel surya guna mendukung operasional pertanian ramah lingkungan. Aisyah memberikan tiga tips praktis bagi generasi muda yang ingin terjun ke industri pertanian berkelanjutan yaitu dapat dimulai dari rumah dengan belajar menanam sendiri untuk memenuhi kebutuhan pangan mandiri. Kemudian, jangan hanya bergantung pada hasil lahan, tetapi mencoba diversifikasi usaha untuk menjaga ketahanan finansial usaha. Tips selanjutnya adalah mengombinasikan peran sebagai petani sekaligus entrepreneur yang adaptif terhadap dinamika pasar.Menuju Transisi Pertanian BerkelanjutanMelalui kolaborasi antara Carbon Academy, YSAB, serta praktisi industri dan komunitas, program GROW diharapkan dapat terus memperkecil kesenjangan antara dunia akademik dan industri. Dengan pembekalan skill dan wadah pendampingan yang tepat melalui program webinar dan career coaching, mahasiswa diyakini mampu mengambil peran aktif sebagai talenta hijau dalam mewujudkan transisi pertanian berkelanjutan di Indonesia.Tentang PenyelenggaraGROW (Green Jobs in Agriculture for Resilient Opportunities & Workforce) adalah proyek sosial dari Learning Group 8 Carbon Academy Vol. 3 yang berkolaborasi dengan YSAB (Youth for Sustainable Agriculture Banyumas).Carbon Academy merupakan program capacity-building dari Carbon Adds On yang dirancang untuk mengembangkan kompetensi generasi muda sebagai talenta green jobs, mendorong penerapan praktik keberlanjutan di berbagai sektor industri, serta memperluas kolaborasi transisi ekonomi hijau.Informasi Lebih Lanjut: growgreenjob@gmail.com