Enabling Businesses
for a Net-Zero Future

Carbon Addons is a climate technology company committed to making climate action effortless and accessible. We empower individuals, businesses, organizations, and governments to transition toward a low-carbon, regenerative economy through technology, education, consulting, and immersive experiences.

Key Features

Explore how you can measure, reduce, and offset your emissions today.

Real-Time Carbon Offset API & IoT Emissions Tracking
Personalized Carbon Calculator for Individuals and Organizations
Carbon Academy: Learn, Certify, Lead
ESG & Carbon Consulting Services
Sustainability Learning & Cultural Experiences
Who We Are

Who We Are

Founded with a mission to integrate sustainability into everyday life, Carbon Addons combines digital innovation with strategic consulting and education to accelerate the shift toward net-zero.

Climate Justice
Innovation
Integrity
Community Empowerment

3.65

million IDR Micro-climate funds channeled

200

trees planted

18.26

tonne of CO2e reduction

3

local communities empowered

Latest From Our Blog

Read insights, articles, and guides on climate tech, carbon neutrality, and best practices.

Elevating Climate Leadership: Perjalanan Transformasi 10 Brand Indonesia dalam 1000 Low Carbon Brand Movement
1000 LCBM
Elevating Climate Leadership: Perjalanan Transformasi 10 Brand Indonesia dalam 1000 Low Carbon Brand Movement

Surabaya, 20 Januari 2026 – Di tengah desakan regulasi global seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan tuntutan pasar akan transparansi ESG, Carbon Addons sukses menutup rangkaian program 1000 Low Carbon Brand Movement (1000 LCBM) kohort pertama. Program inkubasi intensif selama tiga bulan ini bertujuan membekali pelaku usaha Indonesia—dari UKM hingga perusahaan besar—dengan kapasitas teknis untuk mengukur, mengurangi, dan mengomunikasikan jejak karbon mereka sebagai nilai jual brand yang kompetitif.Antusiasme terhadap gerakan ini sangat luar biasa. Sejak pendaftaran dibuka pada Oktober 2025, program ini berhasil menarik minat 67 pelaku bisnis yang tersebar di 14 provinsi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran bisnis akan urgensi isu iklim kini bukan lagi didominasi oleh kota besar, melainkan mulai menjangkau ke berbagai wilayah. Dari puluhan pendaftar tersebut, terpilih 10 bisnis pionir yang memiliki komitmen tertinggi untuk menjalani inkubasi intensif selama tiga bulan. Sepuluh perusahaan tersebut adalah Agro Rice, ALBITEC, IBLAM School of Law, MOI Brands, Perum Perhutani, PT Habibi Digital Nusantara (Habibi Garden), PT Nutri Choco Nusantara (Nichoa), Rambah Runtah, Retrorika Coffee Bar and Resto, serta Waste and Wishes Indonesia.Fig 1. Peta Persebaran Pendaftar 1000 LCBMSelama perjalanan program, dampak nyata yang dihasilkan sangat signifikan. Secara kolektif, 10 perusahaan ini berhasil memetakan dan mencatat total emisi karbon sebesar 102.500,64 tCO2e. Tidak berhenti pada pencatatan emisi, setiap perusahaan juga telah membuat draft 10 target pengurangan emisi yang selaras dengan sains (SBTi) dan menghasilkan 10 laporan transparansi (Low Carbon Brand Disclosure) sebagai bukti kesiapan mereka dalam memimpin transisi industri hijau di Indonesia.Rangkaian perjalanan rendah karbon ini mencapai puncaknya pada sesi Low Carbon Brand Disclosure Presentation dan Graduation yang digelar secara daring pada hari Sabtu tanggal 17 Januari lalu, dimana 10 partisipan terpilih, mulai dari sektor agrikultur, teknologi, hingga pendidikan, mempresentasikan Low Carbon Brand Disclosure mereka sendiri didepan para ahli.Maraton Transformasi Rendah Karbon Selama Tiga BulanProgram 1000 LCBM dirancang sebagai jembatan bagi para pelaku usaha yang seringkali merasa kesulitan memulai langkah dekarbonisasi. "Kami ingin memastikan bahwa transisi rendah karbon bukan lagi menjadi beban kepatuhan, melainkan value driver untuk daya saing jangka panjang," ujar Mohammad Naufal, Founder & CEO Carbon Addons.Keberhasilan ini dicapai melalui perjalanan transformatif yang komprehensif. Dimulai dari Kickoff Talkshow sebagai penyelarasan visi, para peserta kemudian melewati 7 rangkaian workshop strategis yang membekali mereka dengan kemampuan teknis penghitungan karbon hingga strategi reduksi.Fig 2. Rangkaian Perjalanan Peserta 1000 LCBMPerjalanan peserta dimulai dengan penguatan fondasi melalui tujuh workshop strategis. Tidak hanya melalui layar Zoom, para peserta juga mengikuti Offline Immersion selama dua hari di Yogyakarta pada Desember 2025. Di sana, mereka melakukan praktik langsung (hands-on) menggunakan platform Carbon Annalist by Carbon Addons untuk membangun profil emisi dasar (Carbon Baseline) yang akurat, membuat climate target setting dari baseline emisi yang dihitung menggunakan Science Based Target Initiative (SBTi) hingga kunjungan industri dan penyampaian komitmen iklim setiap pemimpin bisnis melalui Climate Ambition Talks.Fig 3. Salah satu dashboard emisi peserta yang menggunakan Platform Carbon AnnalistMenjelang akhir program, para peserta difasilitasi dalam sesi Decarbonization Matchmaking untuk terhubung dengan penyedia solusi teknologi hijau yang dapat mendukung strategi dekarbonisasi usaha, hingga akhirnya mencapai puncak acara melalui Low Carbon Brand Disclosure Presentation & Graduation."Program ini membantu peserta memahami perubahan iklim tidak hanya sebagai risiko, tetapi juga sebagai peluang bisnis yang nyata dan dapat diimplementasikan," ungkap Yunanta Chandra Buana dari Perum Perhutani, salah satu peserta program.Low Carbon Brand Disclosure: Menakar Kredibilitas di Hadapan Panel AhliPada sesi Low Carbon Brand Disclosure Presentation, para peserta mempresentasikan strategi reduksi karbon mereka di hadapan panel peninjau (reviewers) yang terdiri dari Winda Yuantika, ESG Specialist dari National Center for Corporate Reporting (NCCR); Monty Hasan, Founder Topiku (Brand Fashion Rendah Karbon); dan Mohammad Naufal, CEO Carbon Addons.Fig 4. Top Performers 1000 LCBM Kohort PertamaBerdasarkan kredibilitas data dan ambisi strategi yang dipaparkan, tiga peserta yakni Agro Rice, IBLAM School of Law, dan Habibi Digital Nusantara (Habibi Garden) ditetapkan sebagai Top Performers. Ketiganya mendapatkan akses tambahan ke sistem manajemen karbon Carbon Annalist untuk memperkuat implementasi strategi mereka.Harapan Masa Depan Usaha Rendah Karbon di IndonesiaBagi para peserta, 1000 LCBM memberikan sudut pandang baru. Susi Setiaramdani dari Habibi Garden menuturkan, "Program ini tidak hanya menambah pengetahuan mengenai perhitungan emisi, tetapi juga memperluas point of view mengenai seberapa penting menjalankan bisnis yang berkelanjutan, bahkan untuk bisnis skala kecil sekalipun."Fig 5. Peserta 1000 LCBM, Organizer, serta Tamu Undangan saat Climate Ambition Talks di YogyakartaSebagai penutup, Mohammad Naufal menekankan pentingnya kolaborasi ekosistem. "1000 LCBM kohort pertama hanyalah awal. Kami mengajak semua pihak untuk terus membangun ekosistem di mana setiap brand di Indonesia memiliki identitas rendah karbon yang kuat."Terima Kasih Kepada Mitra Kami: Keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan mitra strategis: Asian Development Bank (ADB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Innovative Academy UGM. Serta para mitra komunitas yang luar biasa: Climate Reality Indonesia, Yayasan KEHATI, PLUS, Angin, Kumpul Impact, Block71, Nexus Indonesia, UKM Indonesia, Innovation Factory, The Local Enablers, Instellar, United In Diversity, Cleanomic, Ecoxyztem, Yayasan ActSEA.Tentang Carbon Addons: Carbon Addons adalah climate tech startup yang berfokus pada aksi perubahan iklim melalui solusi teknologi inovatif dan platform netralitas karbon. Kami berkomitmen untuk mempermudah individu, bisnis, dan komunitas dalam mengukur, mereduksi, serta mengompensasi emisi karbon, sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis teknologi, Carbon Addons menyediakan sistem terintegrasi yang mendukung pelaporan karbon, pengurangan emisi, serta Carbon API yang dapat diadopsi oleh berbagai industri. Melalui kolaborasi dan inovasi, kami bertujuan menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.Tertarik untuk memulai perjalanan rendah karbon brand Anda? Hubungi kami di +62 812-6570-0812 (WhatsApp), email kami info@carbonaddons.id  atau ikuti perjalanan kami di Instagram @carbonaddons.id

1000 Low Carbon Brand Movement Dorong Transformasi UMKM Menuju Bisnis Rendah Karbon Berbasis Sains
1000 LCBM
1000 Low Carbon Brand Movement Dorong Transformasi UMKM Menuju Bisnis Rendah Karbon Berbasis Sains

Yogyakarta, 5–6 Desember 2025 — Program 1000 Low Carbon Brand Movement (1000 LCBM) yang diinisiasi oleh Carbon Addons kembali melanjutkan rangkaian pendampingan intensif bagi pelaku UMKM dan organisasi terpilih melalui In-Person Workshop di Yogyakarta dan Magelang. Kegiatan ini merupakan bagian dari perjalanan transformasi peserta dalam total tujuh workshop yang berlangsung dari November 2025 hingga Januari 2026, hingga tahap akhir berupa matchmaking dengan mitra dekarbonisasi dalam ekosistem Carbon Addons serta presentasi Low Carbon Brand Disclosure setiap peserta.Rangkaian workshop 1000 LCBM dirancang sebagai proses bertahap dan terintegrasi—mulai dari pemahaman dasar perubahan iklim, pengukuran jejak karbon, penetapan target iklim berbasis sains, perancangan strategi pengurangan emisi, hingga implementasi dan kolaborasi nyata. Tujuan utamanya adalah mempersiapkan pelaku usaha untuk bertransformasi menjadi brand rendah karbon yang tidak hanya patuh, tetapi juga resilien dan berdaya saing jangka panjang.Gambar 1. Ghiani selaku Master of Ceremony membuka kegiatan In-person Workshop 1000 LCBMKegiatan dibuka secara resmi oleh Ghiani selaku Master of Ceremony, yang menyampaikan tujuan umum workshop dan pentingnya membangun pemahaman mendasar terkait jejak karbon korporasi sebelum memasuki tahap penetapan target iklim. Pembukaan berlangsung ringkas dan formal, memberikan konteks bahwa pengukuran emisi bukan sekadar kewajiban pelaporan, melainkan fondasi strategis dalam pengambilan keputusan bisnis berkelanjutan.Workshop 3: Corporate Carbon Footprinting – Membangun Baseline Emisi UMKMHari pertama dimulai dengan Workshop 3: Hands-on Workshop for Corporate Carbon Footprinting, yang dipandu langsung oleh Mohammad Naufal, Founder & CEO Carbon Addons. Sesi ini berfokus pada penguatan kapasitas teknis peserta dalam menghitung jejak karbon perusahaan secara sistematis, mencakup Scope 1 (direct emissions) dan Scope 2 (operational emissions).Gambar 2. Materi workshop ketiga terkait Pengukuran Emisi Karbon Korporasi menggunakan Platform Carbon Annalist disampaikan oleh Mohammad NaufalPeserta diperkenalkan pada penggunaan platform Carbon Annalist, mulai dari pemahaman antarmuka, pengaturan batas organisasi dan operasional, hingga pemilihan sumber emisi yang relevan dengan karakter bisnis masing-masing. Menggunakan data operasional selama satu tahun, peserta secara langsung membangun company profile, melakukan input data aktivitas, dan meninjau hasil perhitungan emisi melalui dashboard.Gambar 3. Salah satu dashboard emisi peserta yang menggunakan Platform Carbon AnnalistPendampingan intensif diberikan oleh tim fasilitator dan IT Carbon Addons, khususnya saat peserta menghadapi tantangan teknis dan non-teknis. Melalui proses ini, peserta tidak hanya menghasilkan Carbon Baseline Profile awal, tetapi juga mulai mengidentifikasi emission hotspots yang mana merupakan sumber emisi terbesar yang menjadi prioritas perbaikan.Workshop ini juga menghadirkan sesi perkenalan praktik keberlanjutan dari beberapa peserta, termasuk IBLAM School of Law dan ALBITEC, yang berbagi pengalaman implementasi kendaraan listrik, energi surya, serta teknologi mikroalga untuk penangkapan karbon. Diskusi ini memperkaya perspektif peserta bahwa pendekatan rendah karbon dapat diterapkan lintas sektor dengan solusi yang beragam.Workshop 4: Target-setting & Climate Leadership – Dari Data ke Aksi IklimMemasuki sesi siang, kegiatan berlanjut ke Workshop 4 yakni Target-setting & Climate Leadership, yang dipandu oleh Regina Inderadi, GHG Accounting Lead Verifier & Trainer sekaligus Vice Chair ACEXI. Sesi ini menjadi jembatan penting antara pengukuran emisi dan perencanaan aksi pengurangan yang strategis.Gambar 4. Regina Inderadi menyampaikan workshop keempat mengenai Target-setting dan Climate LeadershipWorkshop diawali dengan perkenalan inisiatif dari dua peserta, Nichoa Chocolate yang menekankan kesejahteraan petani kakao dalam rantai pasoknya, serta Agro Rice yang mengembangkan beras organik dengan sistem pelacakan emisi. Regina kemudian memaparkan kerangka dan konsep science-based targets terutama untuk UMKM (SBTi – SME Route), serta contoh praktik baik dari brand nasional dan internasional seperti Snocks GmbH, Burgreens, Javara, Sensatia Botanicals, dan Evoware.Gambar 5. Salah satu exercise canvas peserta mengenai AAA Climate LeadershipSalah satu sorotan utama sesi ini adalah pengenalan AAA Climate Leadership Framework (Ambition, Action, Advocacy), yang menempatkan kepemimpinan, tata kelola, dan komunikasi sebagai elemen kunci keberhasilan transisi rendah karbon. Diskusi berlangsung interaktif, membahas tantangan nyata seperti ekspansi kebun, pembukaan outlet baru, hingga transisi energi dari LPG ke kompor induksi. Ditekankan bahwa perhitungan emisi dilakukan secara tahunan, sementara analisis proyek digunakan untuk memahami dampak perubahan operasional.Sesi ditutup dengan praktik penyusunan draft target iklim dan climate leadership commitment, di mana peserta merumuskan target jangka pendek dan menengah, strategi implementasi, serta struktur akuntabilitas internal.Kunjungan Industri Nichoa Chocolate: Belajar dari Praktik NyataPada hari kedua, peserta mengikuti Business Site Visit ke pabrik Nichoa Chocolate di Magelang. Selain meninjau warehouse dan proses produksi bean-to-bar, peserta mendapatkan perspektif langsung mengenai dampak perubahan iklim terhadap bisnis.Gambar 6. Kunjungan bisnis ke Nichoa Chocolate sebagai bagian dari peer-learning peserta 1000 LCBMDalam sesi pemaparan, Founder Nichoa Chocolate menyoroti bahwa perubahan iklim telah berdampak nyata pada penurunan produktivitas kakao, peningkatan risiko gagal panen, dan potensi kelangkaan bahan baku. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga mengancam keberlanjutan usaha di hilir. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa tanggung jawab terhadap emisi karbon bukan sekadar kewajiban moral atau kepatuhan, melainkan bagian dari strategi menjaga resiliensi dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.Gambar 7. Andri Setyowati, pemilik Nichoa Chocolate sekaligus peserta 1000 LCBM, memaparkan tentang usaha cokelatnya yang dirintis dari tahun 2018Kunjungan ini memberikan pembelajaran kontekstual bagi peserta bahwa isu iklim memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas rantai pasok, kualitas produk, dan keberlangsungan usaha.Climate Ambition Talks & Penguatan JejaringSebagai tindak lanjut dari Workshop 4, peserta mengikuti Climate Ambition Talks di Yogyakarta. Setiap organisasi mempresentasikan target iklim dan komitmen kepemimpinan yang telah disusun, mencakup sumber emisi utama, prioritas pengurangan, serta rencana jangka pendek dan menengah.Gambar 8. Perwakilan Perum Perhutani yang juga peserta 1000 LCBM, Jefri Gibson Nababan, menyampaikan hasil Climate Commitment mereka dalam 1000 LCBMSesi ini turut dihadiri oleh tamu pendengar dari JALA TECH, Asosiasi Pengusaha Kreatif Jaya, Innovative Academy UGM, serta Pemerintah Daerah DIY, memperkuat dialog lintas sektor dan peluang kolaborasi. Mereka juga menjadi penanggap untuk memberikan umpan balik konstruktif kepada peserta 1000 LCBM agar target yang dirumuskan tetap ambisius namun realistis dan terukur. Rangkaian kegiatan ditutup dengan Networking Lunch, yang menjadi ruang strategis untuk membangun kemitraan dan kolaborasi lanjutan dalam ekosistem 1000 LCBM.Membangun Fondasi UMKM Rendah Karbon di IndonesiaMenutup rangkaian kegiatan, Mohammad Naufal, Founder & CEO Carbon Addons, menegaskan komitmen Carbon Addons dalam mendampingi pelaku usaha menuju transformasi rendah karbon, “Kami merancang 1000 Low Carbon Brand Movement sebagai sebuah perjalanan keberlanjutan bagi setiap organisasi. Kami ingin memastikan setiap peserta tidak hanya memahami jejak karbonnya, tetapi juga mampu menerjemahkan data tersebut menjadi strategi bisnis yang tangguh dan relevan dengan tantangan iklim ke depan. Carbon Addons berkomitmen untuk terus mendukung transformasi ini dan membuka kolaborasi seluas-luasnya dengan mitra, pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas yang ingin membangun ekosistem brand rendah karbon di Indonesia”, pungkasnya.Gambar 9. Peserta dan Organizer 1000 LCBMMelalui rangkaian workshop ini, peserta berhasil membangun carbon baseline, menyusun draft target pengurangan emisi selaras jalur 1.5°C, serta merumuskan komitmen climate leadership berbasis data. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, 1000 LCBM menempatkan UMKM sebagai aktor penting dalam agenda iklim nasional, bukan hanya sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai pemimpin perubahan di tingkat bisnis dan komunitas. Program ini menegaskan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia dapat dimulai dari UMKM, selama didukung oleh pendekatan berbasis sains, pendampingan yang tepat, dan ekosistem kolaboratif yang kuat.Penulis: Zafira AmaniPenyunting: Mohammad Naufal— — — — —Tentang Carbon AddonsCarbon Addons adalah climate tech startup yang berfokus pada aksi perubahan iklim melalui solusi teknologi inovatif dan platform netralitas karbon. Kami berkomitmen untuk mempermudah individu, bisnis, dan komunitas dalam mengukur, mereduksi, serta mengompensasi emisi karbon, sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis teknologi, Carbon Addons menyediakan sistem terintegrasi yang mendukung pelaporan karbon, pengurangan emisi, serta Carbon API yang dapat diadopsi oleh berbagai industri. Melalui kolaborasi dan inovasi, kami bertujuan menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Mempersiapkan Talenta Muda dalam Era Green Jobs:  Kick-off Carbon Academy Volume 2
Carbon Academy
Mempersiapkan Talenta Muda dalam Era Green Jobs: Kick-off Carbon Academy Volume 2

Seiring dengan transisi menuju energi bersih dan ekonomi hijau, peluang karir di sektor green jobs semakin terbuka lebar. Namun, pertanyaannya adalah: apakah talenta muda siap menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang ini?Permintaan terhadap green skills meningkat pesat, tetapi masih terdapat kesenjangan antara supply dan demand di pasar tenaga kerja. Oleh karena itu, diperlukan wadah yang dapat memberikan pelatihan serta pembekalan keterampilan bagi talenta muda agar lebih siap menghadapi perubahan ini. Carbon Academy hadir sebagai solusi yang menjembatani kesenjangan tersebut dengan cara menyediakan platform bagi talenta muda untuk menambah wawasan dan keterampilan yang relevan dalam mendukung keberlanjutan dan ekonomi hijau.Fig 1. Ilustrasi pekerjaan hijau atau green jobs. Pekerjaan yang berfokus pada kelestarian lingkungan.Setelah sukses dengan Carbon Academy Volume 1 pada tahun 2022, Carbon Addons kembali menghadirkan Carbon Academy Volume 2 untuk menjawab tren dan kebutuhan yang terus berkembang. Dengan format yang lebih komprehensif, program ini dirancang untuk tidak hanya membangun kapasitas peserta tetapi juga menghubungkan mereka dengan industri yang relevan. Sebagai langkah awal, Kick-off Carbon Academy Volume 2 diselenggarakan pada Kamis, 6 Maret 2025 dengan tema “Unlocking the Green Economy: Skills for a Sustainable Tomorrow”.Kick-off Carbon Academy Volume 2: Kolaborasi untuk Masa Depan BerkelanjutanAcara Kick-off Carbon Academy Volume 2 dibuka dengan sambutan dari Randa Sandhita selaku Focal Point for Youth Empowerment Initiative UNDP Indonesia. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Carbon Academy merupakan program Carbon Addons yang berkolaborasi dengan UNDP, di bawah tiga program utama, yaitu Skill Our Future, YECAP, dan Movers. Program ini bertujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan hijau yang dibutuhkan di era transisi ini.Sesi Talkshow: Green Jobs dari Berbagai PerspektifSelanjutnya sesi talkshow interaktif yang dipandu oleh Azellia Alma Shafira, (Dosen FEB UGM & Co-Founder Banoo Indonesia) menghadirkan tiga pembicara dari berbagai sektor, diantaranya Setyo Budiantoro, (Economic Development Pillar Manager, SDGs National Coordinator Secretariat, Bappenas), Akmal Budiman, (Head of Corporate Secretary, Investor Relations, ESG & Sustainability, PT Bussan Auto Finance), dan Santi Dharmaputra, (Business & Solution Group Head, Dayalima Recruitment). Setyo Budiantoro membuka diskusi dengan membahas tantangan global yang dihadapi dunia saat ini, khususnya terkait krisis iklim yang mengancam kesejahteraan manusia. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan seperti well-being decoupling dan resource decoupling, yang bertujuan memisahkan pertumbuhan ekonomi dari kerusakan lingkungan. Ia menekankan bahwa transisi menuju ekonomi hijau dan pengembangan green jobs dapat menjadi solusi jangka panjang, mengingat sektor ini memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja, bahkan hingga 7-10 kali lipat lebih banyak dibandingkan investasi konvensional.Fig 2. Para pembicara Kick-off Carbon Academy Volume 2Akmal Abudiman melanjutkan pembahasan dengan peluang green jobs terkhusus di sektor finansial dan bagaimana peran profesi seperti Sustainability Analyst dan ESG Research Analyst semakin dibutuhkan. Ia menekankan bahwa keberlanjutan kini menjadi fokus utama di berbagai perusahaan, menciptakan permintaan tenaga kerja yang mampu mengelola aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam strategi bisnis.Selanjutnya, Santi Dharmaputra membahas aspek tenaga kerja dan bagaimana green jobs kini telah menjadi bagian dari banyak industri. Ia menekankan bahwa green jobs bukan hanya untuk mereka yang memiliki latar belakang lingkungan atau teknik, tetapi terbuka bagi siapa saja yang memiliki kesadaran terhadap keberlanjutan serta keinginan untuk belajar dan mengembangkan keterampilan dalam renewable energy, green economy, dan sustainability. Menurutnya, transisi menuju green jobs juga menuntut perusahaan untuk mereformasi struktur dan proses bisnis agar lebih ramah lingkungan, termasuk dengan memberikan pelatihan bagi karyawan dan menyebarkan informasi mengenai green skills melalui career guidance dan counseling.Kunci Sukses dalam Green Jobs: Pentingnya Pola Pikir Fleksibel dan Pembelajaran BerkelanjutanDalam sesi Closing Remarks, para pembicara menegaskan pentingnya pola pikir yang fleksibel dan terus berkembang dalam menghadapi era green jobs. "Kita butuh Unlearn, Learn, dan Relearn. Ketiga hal itu penting, karena kini zaman sudah sangat berbeda. Maka, kita perlu terus belajar tentang bidang yang ingin ditekuni, mengeksplorasi, dan mempelajarinya agar kita kompatibel dengan kebutuhan," ujar Setyo Budiantoro sebagai kunci memasuki dunia green jobs. Kemudian, Akmal Abudiman menekankan bahwa dunia kerja yang dinamis menuntut kita untuk tidak cepat puas dan terus menggali ilmu baru. Terakhir, disempurnakan oleh Santi Dharmaputra yang menegaskan bahwa sebagai individu yang ingin bertahan dalam dunia kerja yang kompetitif, kita harus fleksibel, agile, dan selalu mampu menggunakan intuisi serta nalar dalam beradaptasi.Mengenal Carbon Academy Volume 2: Memahami Program dan Perjalanan BelajarnyaSebagai penutup acara, Mohammad Naufal selaku Founder & CEO Carbon Addons, memaparkan lebih lanjut mengenai Carbon Academy Volume 2 dan bagaimana program ini dirancang untuk membekali peserta dengan green skills yang dapat langsung diterapkan di industri. Berbeda dengan Volume 1 yang berfokus pada capacity building, Volume 2 dirancang untuk menghubungkan talenta muda dengan industri relevan melalui kombinasi pembelajaran dan pengalaman praktik langsung. Learning journey Carbon Academy Volume 2 akan dilaksanakan dalam tiga bulan masa pembelajaran, sebagai berikut: Kickoff (Februari): Talkshow dan pemaparan program, termasuk insight dari berbagai perspektif.Fase 1 (Maret - April): Movers Green Jobs Workshop – Pembelajaran intensif mengenai SDGs, green jobs, dan pentingnya peran talenta muda dalam perubahan iklim.Fase 2 (April - Juni): Green Career Training – Membantu peserta dalam merencanakan karier hijau berdasarkan baseline mereka masing-masing.Fase 3 (Juni - Agustus): Internship & Social Project – Peserta akan mendapatkan pengalaman praktik langsung dalam industri hijau di delapan Ecosystem Partner Carbon Addons dan terlibat dalam proyek sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keberlanjutan.Final Stage (September): Post-Assessment & Graduation – Evaluasi hasil pembelajaran dan presentasi proyek sosial yang telah dilakukan peserta.Fig 3. Learning Journey pada Carbon Academy Volume 2Pada sesi ini, turut diumumkan peserta terpilih yang akan mengikuti rangkaian Carbon Academy Volume 2. Proses seleksi berlangsung ketat dan kompetitif, dengan penilaian berdasarkan berbagai faktor. "Terkait applicant, ada penundaan pengumuman karena kami menerima banyak sekali pendaftar, yaitu 235 pendaftar dari 25 provinsi dan 3 negara. Jadi, seleksi ini sangat kompetitif. Hingga akhirnya, terpilih 30 peserta terbaik. Saya ucapkan selamat kepada para peserta terpilih. Harapannya, teman-teman bisa open-minded dan berkomitmen untuk menyelesaikan program ini dengan baik, sehingga pada akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan di ecosystem partners kita," tutur Mohammad Naufal. Selain itu, setiap peserta akan tergabung dalam learning group yang terdiri dari 5 orang dengan dedicated mentor yang akan mendampingi dalam proses pembelajaran serta aplikasi internship di industri terkait.Saatnya Menjadi Bagian dari Perubahan!Dengan semangat keberlanjutan dan kesiapan menghadapi tantangan di era green economy, Carbon Academy Volume 2 siap menjadi wadah bagi talenta muda yang ingin berkembang dalam bidang green jobs. Selamat kepada 30 peserta terpilih yang akan mengikuti program ini!Apakah kamu siap menjadi bagian dari generasi yang mendorong perubahan menuju masa depan berkelanjutan? Mari bergabung dan persiapkan diri dengan green skills untuk menghadapi tantangan global dan membangun Indonesia yang lebih hijau!Selengkapnya, rekaman Kick Off Carbon Academy Volume 2 dapat diakses melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/live/iCK84Rc4Ljw?si=XFhz7etMSxi4XZYsUntuk informasi lebih lanjut terkait berbagai program keberlanjutan kami, silakan hubungi:Rizqi Mulia Raya Rinaldi – Marketing and Communication Lead Carbon AddonsEmail: info@carbonaddons.idTelepon: +62 812 6570 0812— — — — —Tentang Carbon AddonsCarbon Addons adalah climate tech startup yang berfokus pada aksi perubahan iklim melalui solusi teknologi inovatif dan platform netralitas karbon. Kami berkomitmen untuk mempermudah individu, bisnis, dan komunitas dalam mengukur, mereduksi, serta mengompensasi emisi karbon, sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis teknologi, Carbon Addons menyediakan sistem terintegrasi yang mendukung pelaporan karbon, pengurangan emisi, serta Carbon API yang dapat diadopsi oleh berbagai industri. Melalui kolaborasi dan inovasi, kami bertujuan menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Our Partners and Clients

Collaborated with 100+ institutions ranging from Government, Corporate, University, Community, NGO, and Media

Pemerintah Kota Surabaya Pemerintah Kota Surabaya
Pertamina Foundation Pertamina Foundation
Asian Development Bank
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Institut Pertanian Bogor
United Nations Development Programme
ANGIN ANGIN
Good News From Indonesia Good News From Indonesia
Sebumi Sebumi
Save the Children Save the Children

Stay Updated

Subscribe to our newsletter to receive the latest updates