Enabling Businesses
for a Net-Zero Future

Carbon Addons is a climate technology company committed to making climate action effortless and accessible. We empower individuals, businesses, organizations, and governments to transition toward a low-carbon, regenerative economy through technology, education, consulting, and immersive experiences.

Key Features

Explore how you can measure, reduce, and offset your emissions today.

Real-Time Carbon Offset API & IoT Emissions Tracking
Personalized Carbon Calculator for Individuals and Organizations
Carbon Academy: Learn, Certify, Lead
ESG & Carbon Consulting Services
Sustainability Learning & Cultural Experiences
Who We Are

Who We Are

Founded with a mission to integrate sustainability into everyday life, Carbon Addons combines digital innovation with strategic consulting and education to accelerate the shift toward net-zero.

Climate Justice
Innovation
Integrity
Community Empowerment

3.65

million IDR Micro-climate funds channeled

200

trees planted

18.26

tonne of CO2e reduction

3

local communities empowered

Latest From Our Blog

Read insights, articles, and guides on climate tech, carbon neutrality, and best practices.

1000 Low Carbon Brand Movement Dorong Transformasi UMKM Menuju Bisnis Rendah Karbon Berbasis Sains
1000 LCBM
1000 Low Carbon Brand Movement Dorong Transformasi UMKM Menuju Bisnis Rendah Karbon Berbasis Sains

Yogyakarta, 5–6 Desember 2025 — Program 1000 Low Carbon Brand Movement (1000 LCBM) yang diinisiasi oleh Carbon Addons kembali melanjutkan rangkaian pendampingan intensif bagi pelaku UMKM dan organisasi terpilih melalui In-Person Workshop di Yogyakarta dan Magelang. Kegiatan ini merupakan bagian dari perjalanan transformasi peserta dalam total tujuh workshop yang berlangsung dari November 2025 hingga Januari 2026, hingga tahap akhir berupa matchmaking dengan mitra dekarbonisasi dalam ekosistem Carbon Addons serta presentasi Low Carbon Brand Disclosure setiap peserta.Rangkaian workshop 1000 LCBM dirancang sebagai proses bertahap dan terintegrasi—mulai dari pemahaman dasar perubahan iklim, pengukuran jejak karbon, penetapan target iklim berbasis sains, perancangan strategi pengurangan emisi, hingga implementasi dan kolaborasi nyata. Tujuan utamanya adalah mempersiapkan pelaku usaha untuk bertransformasi menjadi brand rendah karbon yang tidak hanya patuh, tetapi juga resilien dan berdaya saing jangka panjang.Gambar 1. Ghiani selaku Master of Ceremony membuka kegiatan In-person Workshop 1000 LCBMKegiatan dibuka secara resmi oleh Ghiani selaku Master of Ceremony, yang menyampaikan tujuan umum workshop dan pentingnya membangun pemahaman mendasar terkait jejak karbon korporasi sebelum memasuki tahap penetapan target iklim. Pembukaan berlangsung ringkas dan formal, memberikan konteks bahwa pengukuran emisi bukan sekadar kewajiban pelaporan, melainkan fondasi strategis dalam pengambilan keputusan bisnis berkelanjutan.Workshop 3: Corporate Carbon Footprinting – Membangun Baseline Emisi UMKMHari pertama dimulai dengan Workshop 3: Hands-on Workshop for Corporate Carbon Footprinting, yang dipandu langsung oleh Mohammad Naufal, Founder & CEO Carbon Addons. Sesi ini berfokus pada penguatan kapasitas teknis peserta dalam menghitung jejak karbon perusahaan secara sistematis, mencakup Scope 1 (direct emissions) dan Scope 2 (operational emissions).Gambar 2. Materi workshop ketiga terkait Pengukuran Emisi Karbon Korporasi menggunakan Platform Carbon Annalist disampaikan oleh Mohammad NaufalPeserta diperkenalkan pada penggunaan platform Carbon Annalist, mulai dari pemahaman antarmuka, pengaturan batas organisasi dan operasional, hingga pemilihan sumber emisi yang relevan dengan karakter bisnis masing-masing. Menggunakan data operasional selama satu tahun, peserta secara langsung membangun company profile, melakukan input data aktivitas, dan meninjau hasil perhitungan emisi melalui dashboard.Gambar 3. Salah satu dashboard emisi peserta yang menggunakan Platform Carbon AnnalistPendampingan intensif diberikan oleh tim fasilitator dan IT Carbon Addons, khususnya saat peserta menghadapi tantangan teknis dan non-teknis. Melalui proses ini, peserta tidak hanya menghasilkan Carbon Baseline Profile awal, tetapi juga mulai mengidentifikasi emission hotspots yang mana merupakan sumber emisi terbesar yang menjadi prioritas perbaikan.Workshop ini juga menghadirkan sesi perkenalan praktik keberlanjutan dari beberapa peserta, termasuk IBLAM School of Law dan ALBITEC, yang berbagi pengalaman implementasi kendaraan listrik, energi surya, serta teknologi mikroalga untuk penangkapan karbon. Diskusi ini memperkaya perspektif peserta bahwa pendekatan rendah karbon dapat diterapkan lintas sektor dengan solusi yang beragam.Workshop 4: Target-setting & Climate Leadership – Dari Data ke Aksi IklimMemasuki sesi siang, kegiatan berlanjut ke Workshop 4 yakni Target-setting & Climate Leadership, yang dipandu oleh Regina Inderadi, GHG Accounting Lead Verifier & Trainer sekaligus Vice Chair ACEXI. Sesi ini menjadi jembatan penting antara pengukuran emisi dan perencanaan aksi pengurangan yang strategis.Gambar 4. Regina Inderadi menyampaikan workshop keempat mengenai Target-setting dan Climate LeadershipWorkshop diawali dengan perkenalan inisiatif dari dua peserta, Nichoa Chocolate yang menekankan kesejahteraan petani kakao dalam rantai pasoknya, serta Agro Rice yang mengembangkan beras organik dengan sistem pelacakan emisi. Regina kemudian memaparkan kerangka dan konsep science-based targets terutama untuk UMKM (SBTi – SME Route), serta contoh praktik baik dari brand nasional dan internasional seperti Snocks GmbH, Burgreens, Javara, Sensatia Botanicals, dan Evoware.Gambar 5. Salah satu exercise canvas peserta mengenai AAA Climate LeadershipSalah satu sorotan utama sesi ini adalah pengenalan AAA Climate Leadership Framework (Ambition, Action, Advocacy), yang menempatkan kepemimpinan, tata kelola, dan komunikasi sebagai elemen kunci keberhasilan transisi rendah karbon. Diskusi berlangsung interaktif, membahas tantangan nyata seperti ekspansi kebun, pembukaan outlet baru, hingga transisi energi dari LPG ke kompor induksi. Ditekankan bahwa perhitungan emisi dilakukan secara tahunan, sementara analisis proyek digunakan untuk memahami dampak perubahan operasional.Sesi ditutup dengan praktik penyusunan draft target iklim dan climate leadership commitment, di mana peserta merumuskan target jangka pendek dan menengah, strategi implementasi, serta struktur akuntabilitas internal.Kunjungan Industri Nichoa Chocolate: Belajar dari Praktik NyataPada hari kedua, peserta mengikuti Business Site Visit ke pabrik Nichoa Chocolate di Magelang. Selain meninjau warehouse dan proses produksi bean-to-bar, peserta mendapatkan perspektif langsung mengenai dampak perubahan iklim terhadap bisnis.Gambar 6. Kunjungan bisnis ke Nichoa Chocolate sebagai bagian dari peer-learning peserta 1000 LCBMDalam sesi pemaparan, Founder Nichoa Chocolate menyoroti bahwa perubahan iklim telah berdampak nyata pada penurunan produktivitas kakao, peningkatan risiko gagal panen, dan potensi kelangkaan bahan baku. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga mengancam keberlanjutan usaha di hilir. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa tanggung jawab terhadap emisi karbon bukan sekadar kewajiban moral atau kepatuhan, melainkan bagian dari strategi menjaga resiliensi dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.Gambar 7. Andri Setyowati, pemilik Nichoa Chocolate sekaligus peserta 1000 LCBM, memaparkan tentang usaha cokelatnya yang dirintis dari tahun 2018Kunjungan ini memberikan pembelajaran kontekstual bagi peserta bahwa isu iklim memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas rantai pasok, kualitas produk, dan keberlangsungan usaha.Climate Ambition Talks & Penguatan JejaringSebagai tindak lanjut dari Workshop 4, peserta mengikuti Climate Ambition Talks di Yogyakarta. Setiap organisasi mempresentasikan target iklim dan komitmen kepemimpinan yang telah disusun, mencakup sumber emisi utama, prioritas pengurangan, serta rencana jangka pendek dan menengah.Gambar 8. Perwakilan Perum Perhutani yang juga peserta 1000 LCBM, Jefri Gibson Nababan, menyampaikan hasil Climate Commitment mereka dalam 1000 LCBMSesi ini turut dihadiri oleh tamu pendengar dari JALA TECH, Asosiasi Pengusaha Kreatif Jaya, Innovative Academy UGM, serta Pemerintah Daerah DIY, memperkuat dialog lintas sektor dan peluang kolaborasi. Mereka juga menjadi penanggap untuk memberikan umpan balik konstruktif kepada peserta 1000 LCBM agar target yang dirumuskan tetap ambisius namun realistis dan terukur. Rangkaian kegiatan ditutup dengan Networking Lunch, yang menjadi ruang strategis untuk membangun kemitraan dan kolaborasi lanjutan dalam ekosistem 1000 LCBM.Membangun Fondasi UMKM Rendah Karbon di IndonesiaMenutup rangkaian kegiatan, Mohammad Naufal, Founder & CEO Carbon Addons, menegaskan komitmen Carbon Addons dalam mendampingi pelaku usaha menuju transformasi rendah karbon, “Kami merancang 1000 Low Carbon Brand Movement sebagai sebuah perjalanan keberlanjutan bagi setiap organisasi. Kami ingin memastikan setiap peserta tidak hanya memahami jejak karbonnya, tetapi juga mampu menerjemahkan data tersebut menjadi strategi bisnis yang tangguh dan relevan dengan tantangan iklim ke depan. Carbon Addons berkomitmen untuk terus mendukung transformasi ini dan membuka kolaborasi seluas-luasnya dengan mitra, pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas yang ingin membangun ekosistem brand rendah karbon di Indonesia”, pungkasnya.Gambar 9. Peserta dan Organizer 1000 LCBMMelalui rangkaian workshop ini, peserta berhasil membangun carbon baseline, menyusun draft target pengurangan emisi selaras jalur 1.5°C, serta merumuskan komitmen climate leadership berbasis data. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, 1000 LCBM menempatkan UMKM sebagai aktor penting dalam agenda iklim nasional, bukan hanya sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai pemimpin perubahan di tingkat bisnis dan komunitas. Program ini menegaskan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia dapat dimulai dari UMKM, selama didukung oleh pendekatan berbasis sains, pendampingan yang tepat, dan ekosistem kolaboratif yang kuat.Penulis: Zafira AmaniPenyunting: Mohammad Naufal— — — — —Tentang Carbon AddonsCarbon Addons adalah climate tech startup yang berfokus pada aksi perubahan iklim melalui solusi teknologi inovatif dan platform netralitas karbon. Kami berkomitmen untuk mempermudah individu, bisnis, dan komunitas dalam mengukur, mereduksi, serta mengompensasi emisi karbon, sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis teknologi, Carbon Addons menyediakan sistem terintegrasi yang mendukung pelaporan karbon, pengurangan emisi, serta Carbon API yang dapat diadopsi oleh berbagai industri. Melalui kolaborasi dan inovasi, kami bertujuan menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Mempersiapkan Talenta Muda dalam Era Green Jobs:  Kick-off Carbon Academy Volume 2
Carbon Academy
Mempersiapkan Talenta Muda dalam Era Green Jobs: Kick-off Carbon Academy Volume 2

Seiring dengan transisi menuju energi bersih dan ekonomi hijau, peluang karir di sektor green jobs semakin terbuka lebar. Namun, pertanyaannya adalah: apakah talenta muda siap menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang ini?Permintaan terhadap green skills meningkat pesat, tetapi masih terdapat kesenjangan antara supply dan demand di pasar tenaga kerja. Oleh karena itu, diperlukan wadah yang dapat memberikan pelatihan serta pembekalan keterampilan bagi talenta muda agar lebih siap menghadapi perubahan ini. Carbon Academy hadir sebagai solusi yang menjembatani kesenjangan tersebut dengan cara menyediakan platform bagi talenta muda untuk menambah wawasan dan keterampilan yang relevan dalam mendukung keberlanjutan dan ekonomi hijau.Fig 1. Ilustrasi pekerjaan hijau atau green jobs. Pekerjaan yang berfokus pada kelestarian lingkungan.Setelah sukses dengan Carbon Academy Volume 1 pada tahun 2022, Carbon Addons kembali menghadirkan Carbon Academy Volume 2 untuk menjawab tren dan kebutuhan yang terus berkembang. Dengan format yang lebih komprehensif, program ini dirancang untuk tidak hanya membangun kapasitas peserta tetapi juga menghubungkan mereka dengan industri yang relevan. Sebagai langkah awal, Kick-off Carbon Academy Volume 2 diselenggarakan pada Kamis, 6 Maret 2025 dengan tema “Unlocking the Green Economy: Skills for a Sustainable Tomorrow”.Kick-off Carbon Academy Volume 2: Kolaborasi untuk Masa Depan BerkelanjutanAcara Kick-off Carbon Academy Volume 2 dibuka dengan sambutan dari Randa Sandhita selaku Focal Point for Youth Empowerment Initiative UNDP Indonesia. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa Carbon Academy merupakan program Carbon Addons yang berkolaborasi dengan UNDP, di bawah tiga program utama, yaitu Skill Our Future, YECAP, dan Movers. Program ini bertujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan hijau yang dibutuhkan di era transisi ini.Sesi Talkshow: Green Jobs dari Berbagai PerspektifSelanjutnya sesi talkshow interaktif yang dipandu oleh Azellia Alma Shafira, (Dosen FEB UGM & Co-Founder Banoo Indonesia) menghadirkan tiga pembicara dari berbagai sektor, diantaranya Setyo Budiantoro, (Economic Development Pillar Manager, SDGs National Coordinator Secretariat, Bappenas), Akmal Budiman, (Head of Corporate Secretary, Investor Relations, ESG & Sustainability, PT Bussan Auto Finance), dan Santi Dharmaputra, (Business & Solution Group Head, Dayalima Recruitment). Setyo Budiantoro membuka diskusi dengan membahas tantangan global yang dihadapi dunia saat ini, khususnya terkait krisis iklim yang mengancam kesejahteraan manusia. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan seperti well-being decoupling dan resource decoupling, yang bertujuan memisahkan pertumbuhan ekonomi dari kerusakan lingkungan. Ia menekankan bahwa transisi menuju ekonomi hijau dan pengembangan green jobs dapat menjadi solusi jangka panjang, mengingat sektor ini memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja, bahkan hingga 7-10 kali lipat lebih banyak dibandingkan investasi konvensional.Fig 2. Para pembicara Kick-off Carbon Academy Volume 2Akmal Abudiman melanjutkan pembahasan dengan peluang green jobs terkhusus di sektor finansial dan bagaimana peran profesi seperti Sustainability Analyst dan ESG Research Analyst semakin dibutuhkan. Ia menekankan bahwa keberlanjutan kini menjadi fokus utama di berbagai perusahaan, menciptakan permintaan tenaga kerja yang mampu mengelola aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam strategi bisnis.Selanjutnya, Santi Dharmaputra membahas aspek tenaga kerja dan bagaimana green jobs kini telah menjadi bagian dari banyak industri. Ia menekankan bahwa green jobs bukan hanya untuk mereka yang memiliki latar belakang lingkungan atau teknik, tetapi terbuka bagi siapa saja yang memiliki kesadaran terhadap keberlanjutan serta keinginan untuk belajar dan mengembangkan keterampilan dalam renewable energy, green economy, dan sustainability. Menurutnya, transisi menuju green jobs juga menuntut perusahaan untuk mereformasi struktur dan proses bisnis agar lebih ramah lingkungan, termasuk dengan memberikan pelatihan bagi karyawan dan menyebarkan informasi mengenai green skills melalui career guidance dan counseling.Kunci Sukses dalam Green Jobs: Pentingnya Pola Pikir Fleksibel dan Pembelajaran BerkelanjutanDalam sesi Closing Remarks, para pembicara menegaskan pentingnya pola pikir yang fleksibel dan terus berkembang dalam menghadapi era green jobs. "Kita butuh Unlearn, Learn, dan Relearn. Ketiga hal itu penting, karena kini zaman sudah sangat berbeda. Maka, kita perlu terus belajar tentang bidang yang ingin ditekuni, mengeksplorasi, dan mempelajarinya agar kita kompatibel dengan kebutuhan," ujar Setyo Budiantoro sebagai kunci memasuki dunia green jobs. Kemudian, Akmal Abudiman menekankan bahwa dunia kerja yang dinamis menuntut kita untuk tidak cepat puas dan terus menggali ilmu baru. Terakhir, disempurnakan oleh Santi Dharmaputra yang menegaskan bahwa sebagai individu yang ingin bertahan dalam dunia kerja yang kompetitif, kita harus fleksibel, agile, dan selalu mampu menggunakan intuisi serta nalar dalam beradaptasi.Mengenal Carbon Academy Volume 2: Memahami Program dan Perjalanan BelajarnyaSebagai penutup acara, Mohammad Naufal selaku Founder & CEO Carbon Addons, memaparkan lebih lanjut mengenai Carbon Academy Volume 2 dan bagaimana program ini dirancang untuk membekali peserta dengan green skills yang dapat langsung diterapkan di industri. Berbeda dengan Volume 1 yang berfokus pada capacity building, Volume 2 dirancang untuk menghubungkan talenta muda dengan industri relevan melalui kombinasi pembelajaran dan pengalaman praktik langsung. Learning journey Carbon Academy Volume 2 akan dilaksanakan dalam tiga bulan masa pembelajaran, sebagai berikut: Kickoff (Februari): Talkshow dan pemaparan program, termasuk insight dari berbagai perspektif.Fase 1 (Maret - April): Movers Green Jobs Workshop – Pembelajaran intensif mengenai SDGs, green jobs, dan pentingnya peran talenta muda dalam perubahan iklim.Fase 2 (April - Juni): Green Career Training – Membantu peserta dalam merencanakan karier hijau berdasarkan baseline mereka masing-masing.Fase 3 (Juni - Agustus): Internship & Social Project – Peserta akan mendapatkan pengalaman praktik langsung dalam industri hijau di delapan Ecosystem Partner Carbon Addons dan terlibat dalam proyek sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keberlanjutan.Final Stage (September): Post-Assessment & Graduation – Evaluasi hasil pembelajaran dan presentasi proyek sosial yang telah dilakukan peserta.Fig 3. Learning Journey pada Carbon Academy Volume 2Pada sesi ini, turut diumumkan peserta terpilih yang akan mengikuti rangkaian Carbon Academy Volume 2. Proses seleksi berlangsung ketat dan kompetitif, dengan penilaian berdasarkan berbagai faktor. "Terkait applicant, ada penundaan pengumuman karena kami menerima banyak sekali pendaftar, yaitu 235 pendaftar dari 25 provinsi dan 3 negara. Jadi, seleksi ini sangat kompetitif. Hingga akhirnya, terpilih 30 peserta terbaik. Saya ucapkan selamat kepada para peserta terpilih. Harapannya, teman-teman bisa open-minded dan berkomitmen untuk menyelesaikan program ini dengan baik, sehingga pada akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan di ecosystem partners kita," tutur Mohammad Naufal. Selain itu, setiap peserta akan tergabung dalam learning group yang terdiri dari 5 orang dengan dedicated mentor yang akan mendampingi dalam proses pembelajaran serta aplikasi internship di industri terkait.Saatnya Menjadi Bagian dari Perubahan!Dengan semangat keberlanjutan dan kesiapan menghadapi tantangan di era green economy, Carbon Academy Volume 2 siap menjadi wadah bagi talenta muda yang ingin berkembang dalam bidang green jobs. Selamat kepada 30 peserta terpilih yang akan mengikuti program ini!Apakah kamu siap menjadi bagian dari generasi yang mendorong perubahan menuju masa depan berkelanjutan? Mari bergabung dan persiapkan diri dengan green skills untuk menghadapi tantangan global dan membangun Indonesia yang lebih hijau!Selengkapnya, rekaman Kick Off Carbon Academy Volume 2 dapat diakses melalui tautan berikut: https://www.youtube.com/live/iCK84Rc4Ljw?si=XFhz7etMSxi4XZYsUntuk informasi lebih lanjut terkait berbagai program keberlanjutan kami, silakan hubungi:Rizqi Mulia Raya Rinaldi – Marketing and Communication Lead Carbon AddonsEmail: info@carbonaddons.idTelepon: +62 812 6570 0812— — — — —Tentang Carbon AddonsCarbon Addons adalah climate tech startup yang berfokus pada aksi perubahan iklim melalui solusi teknologi inovatif dan platform netralitas karbon. Kami berkomitmen untuk mempermudah individu, bisnis, dan komunitas dalam mengukur, mereduksi, serta mengompensasi emisi karbon, sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis teknologi, Carbon Addons menyediakan sistem terintegrasi yang mendukung pelaporan karbon, pengurangan emisi, serta Carbon API yang dapat diadopsi oleh berbagai industri. Melalui kolaborasi dan inovasi, kami bertujuan menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Unlocking the Future of Indonesia: Building a Sustainable Workforce for a Greener Economy
Carbon Academy
Unlocking the Future of Indonesia: Building a Sustainable Workforce for a Greener Economy

Over the past five years, Indonesia has witnessed a transformative shift in its economic landscape, with green jobs emerging as a foundation of hope for a more sustainable future. The government, businesses, and educational institutions have begun embracing the green economy as a critical pillar of national development. However, the road to fully integrating green jobs into Indonesia's workforce has been anything but straightforward.A Nation in Transition: The Green Economy Takes Center StageAs the country moves toward becoming a major player in the global clean energy transition, its policies and economic strategies have evolved to support green industries. In recent years, the government has introduced ambitious measures, such as banning the export of raw nickel to stimulate domestic processing for electric vehicle (EV) batteries. This move alone has attracted significant foreign investment, particularly from China, fueling the demand for skilled workers in the green technology sector.Fig 1. Solar panels and wind blades are an illustration of green job opportunities in the energy sector. The energy sector, historically dominated by fossil fuels, is undergoing a transformation as well. Renewable energy targets are becoming more aggressive, with Indonesia aiming for 31% of its energy mix to come from renewables by 2050. This transition demands a workforce equipped with new skills, presenting an unprecedented opportunity for young Indonesians to participate in the green economy.The Surge in Green Jobs: Opportunities and ChallengesA report from the National Development Planning Agency (BAPPENAS) estimates that the green economy could generate 15.3 million new jobs by 2045. These jobs span various industries, including renewable energy, waste management, land restoration, and sustainable agriculture. This reflects that Indonesia has immense potential for green jobs opportunities in the future. Moreover, to support the development of a holistic and inclusive workforce aligned with industry needs, two key documents—National Occupational Map for Green Jobs within the Indonesian National Qualification Framework (KKNI)—have been published. These serve as essential references for developing Standards of Competency (SKKNI), education programs, curricula, training modules, certification schemes, and internship programs. With over 190 identified occupations in several sectors including energy, tourism, and agriculture, these occupational maps guide professionals and job seekers in navigating career growth and personal branding in the Green Jobs sector.Fig 2. List of green jobs identification from the occupational maps from the SKKNIDespite the promising outlook, there are significant challenges. Many young Indonesians are eager to pursue careers in sustainability, but they often face a skills gap. A recent survey by Suara Mahasiswa (SUMA) at the University of Indonesia, collaborating with the Indonesia Cerah Foundation, found that while students recognize the urgency of climate action, they feel unprepared to enter the green job market due to a lack of relevant training and career pathways.Furthermore, misconceptions persist. Many young professionals perceive green jobs as low-paying or lacking long-term career growth. Addressing these concerns requires structural changes in education, policy, and industry collaboration.Bridging the Skills Gap: The Role of Education and TrainingOne of the most critical steps in Indonesia’s green transition is preparing the workforce. Various initiatives have been launched to equip young people with the necessary skills. One of them is the government program that partnered with Germany through the ISED project, which has trained over 1,250 participants in renewable energy technologies and certified vocational school teachers.Fig 3. Documentation of demo day session from green career track in Carbon Academy Vol. 1 2022At the grassroots level, programs like Carbon Academy are playing a vital role in shaping Indonesia’s green workforce. This initiative provides young professionals with hands-on experience in sustainability, equipping them with practical skills needed for careers in carbon management, climate policy, and sustainable business practices. Carbon Academy is actively closing the gap between education and industry demands to foster a new generation of green leaders.A Call to Action: Be Part of the Green FutureThe decisions made today will shape the country's role in the global green economy for decades to come. Young Indonesians have the power to drive this transformation, but they need the right tools, training, and opportunities to succeed. Carbon Addons, through Carbon Academy, is committed to bridging this gap by providing climate education, mentorship, and hands-on experience in green jobs. Since Quarter 4 of 2022, Carbon Academy has trained over 350+ youth across Indonesia and Asia, helping them acquire green skills for sustainable careers. This year, we also collaborated with UNDP and the Movers Programme to conduct its volume 2 which focuses on unlocking the green future through green jobs in Indonesia.Fig 4. Participant Guidebook of Carbon Academy Volume 2 If you are Indonesian, passionate about sustainability, and eager to build a career in green industries, this is your chance to gain practical skills, connect with industry experts, and be part of Indonesia’s green revolution. Join us in shaping the future. Apply for Carbon Academy Volume 2 today and be a leader in Indonesia’s green transition. Sign up here before February 27, 2025! Need more information? Learn the program here.References and SourcesEnergy Tracker Asia. (2024). Indonesia to Experience a Green Jobs Boom, But Policy Changes Integral. . https://energytracker.asia/indonesia-to-experience-a-green-jobs-boom-but-policy-changes-integral/International Labour Organisation (ILO). (2023). Green Jobs and Just Transition Policy Readiness Assessment in the Energy Sector in Indonesia. https://www.ilo.org/resource/brief/green-jobs-and-just-transition-policy-readiness-assessment-energy-sector Suara Mahasiswa (SUMA) and Indonesia Cerah Foundation. (2023). University Student Perceptions of Green Jobs Opportunities and Challenges.  https://www.cerah.or.id/api-storage/publication/oOZ2GWO63xYlanmpIlaNFNtnpE6VCSnWEOEEbFEE.pdfBAPPENAS. (2022). Green Economy Development in Indonesia: Opportunities and Challenges.SKKNI Kemnaker. (2022). Occupational Mapping for Green Jobs in Indonesia.

Our Partners and Clients

Collaborated with 100+ institutions ranging from Government, Corporate, University, Community, NGO, and Media

Pemerintah Kota Surabaya Pemerintah Kota Surabaya
Pertamina Foundation Pertamina Foundation
Asian Development Bank
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Institut Pertanian Bogor
United Nations Development Programme
ANGIN ANGIN
Good News From Indonesia Good News From Indonesia
Sebumi Sebumi
Save the Children Save the Children

Stay Updated

Subscribe to our newsletter to receive the latest updates