1000 Low Carbon Brand Movement Dorong Transformasi UMKM Menuju Bisnis Rendah Karbon Berbasis Sains
Yogyakarta, 5–6 Desember 2025 — Program 1000 Low Carbon Brand Movement (1000 LCBM) yang diinisiasi oleh Carbon Addons kembali melanjutkan rangkaian pendampingan intensif bagi pelaku UMKM dan organisasi terpilih melalui In-Person Workshop di Yogyakarta dan Magelang. Kegiatan ini merupakan bagian dari perjalanan transformasi peserta dalam total tujuh workshop yang berlangsung dari November 2025 hingga Januari 2026, hingga tahap akhir berupa matchmaking dengan mitra dekarbonisasi dalam ekosistem Carbon Addons serta presentasi Low Carbon Brand Disclosure setiap peserta.Rangkaian workshop 1000 LCBM dirancang sebagai proses bertahap dan terintegrasi—mulai dari pemahaman dasar perubahan iklim, pengukuran jejak karbon, penetapan target iklim berbasis sains, perancangan strategi pengurangan emisi, hingga implementasi dan kolaborasi nyata. Tujuan utamanya adalah mempersiapkan pelaku usaha untuk bertransformasi menjadi brand rendah karbon yang tidak hanya patuh, tetapi juga resilien dan berdaya saing jangka panjang.Gambar 1. Ghiani selaku Master of Ceremony membuka kegiatan In-person Workshop 1000 LCBMKegiatan dibuka secara resmi oleh Ghiani selaku Master of Ceremony, yang menyampaikan tujuan umum workshop dan pentingnya membangun pemahaman mendasar terkait jejak karbon korporasi sebelum memasuki tahap penetapan target iklim. Pembukaan berlangsung ringkas dan formal, memberikan konteks bahwa pengukuran emisi bukan sekadar kewajiban pelaporan, melainkan fondasi strategis dalam pengambilan keputusan bisnis berkelanjutan.Workshop 3: Corporate Carbon Footprinting – Membangun Baseline Emisi UMKMHari pertama dimulai dengan Workshop 3: Hands-on Workshop for Corporate Carbon Footprinting, yang dipandu langsung oleh Mohammad Naufal, Founder & CEO Carbon Addons. Sesi ini berfokus pada penguatan kapasitas teknis peserta dalam menghitung jejak karbon perusahaan secara sistematis, mencakup Scope 1 (direct emissions) dan Scope 2 (operational emissions).Gambar 2. Materi workshop ketiga terkait Pengukuran Emisi Karbon Korporasi menggunakan Platform Carbon Annalist disampaikan oleh Mohammad NaufalPeserta diperkenalkan pada penggunaan platform Carbon Annalist, mulai dari pemahaman antarmuka, pengaturan batas organisasi dan operasional, hingga pemilihan sumber emisi yang relevan dengan karakter bisnis masing-masing. Menggunakan data operasional selama satu tahun, peserta secara langsung membangun company profile, melakukan input data aktivitas, dan meninjau hasil perhitungan emisi melalui dashboard.Gambar 3. Salah satu dashboard emisi peserta yang menggunakan Platform Carbon AnnalistPendampingan intensif diberikan oleh tim fasilitator dan IT Carbon Addons, khususnya saat peserta menghadapi tantangan teknis dan non-teknis. Melalui proses ini, peserta tidak hanya menghasilkan Carbon Baseline Profile awal, tetapi juga mulai mengidentifikasi emission hotspots yang mana merupakan sumber emisi terbesar yang menjadi prioritas perbaikan.Workshop ini juga menghadirkan sesi perkenalan praktik keberlanjutan dari beberapa peserta, termasuk IBLAM School of Law dan ALBITEC, yang berbagi pengalaman implementasi kendaraan listrik, energi surya, serta teknologi mikroalga untuk penangkapan karbon. Diskusi ini memperkaya perspektif peserta bahwa pendekatan rendah karbon dapat diterapkan lintas sektor dengan solusi yang beragam.Workshop 4: Target-setting & Climate Leadership – Dari Data ke Aksi IklimMemasuki sesi siang, kegiatan berlanjut ke Workshop 4 yakni Target-setting & Climate Leadership, yang dipandu oleh Regina Inderadi, GHG Accounting Lead Verifier & Trainer sekaligus Vice Chair ACEXI. Sesi ini menjadi jembatan penting antara pengukuran emisi dan perencanaan aksi pengurangan yang strategis.Gambar 4. Regina Inderadi menyampaikan workshop keempat mengenai Target-setting dan Climate LeadershipWorkshop diawali dengan perkenalan inisiatif dari dua peserta, Nichoa Chocolate yang menekankan kesejahteraan petani kakao dalam rantai pasoknya, serta Agro Rice yang mengembangkan beras organik dengan sistem pelacakan emisi. Regina kemudian memaparkan kerangka dan konsep science-based targets terutama untuk UMKM (SBTi – SME Route), serta contoh praktik baik dari brand nasional dan internasional seperti Snocks GmbH, Burgreens, Javara, Sensatia Botanicals, dan Evoware.Gambar 5. Salah satu exercise canvas peserta mengenai AAA Climate LeadershipSalah satu sorotan utama sesi ini adalah pengenalan AAA Climate Leadership Framework (Ambition, Action, Advocacy), yang menempatkan kepemimpinan, tata kelola, dan komunikasi sebagai elemen kunci keberhasilan transisi rendah karbon. Diskusi berlangsung interaktif, membahas tantangan nyata seperti ekspansi kebun, pembukaan outlet baru, hingga transisi energi dari LPG ke kompor induksi. Ditekankan bahwa perhitungan emisi dilakukan secara tahunan, sementara analisis proyek digunakan untuk memahami dampak perubahan operasional.Sesi ditutup dengan praktik penyusunan draft target iklim dan climate leadership commitment, di mana peserta merumuskan target jangka pendek dan menengah, strategi implementasi, serta struktur akuntabilitas internal.Kunjungan Industri Nichoa Chocolate: Belajar dari Praktik NyataPada hari kedua, peserta mengikuti Business Site Visit ke pabrik Nichoa Chocolate di Magelang. Selain meninjau warehouse dan proses produksi bean-to-bar, peserta mendapatkan perspektif langsung mengenai dampak perubahan iklim terhadap bisnis.Gambar 6. Kunjungan bisnis ke Nichoa Chocolate sebagai bagian dari peer-learning peserta 1000 LCBMDalam sesi pemaparan, Founder Nichoa Chocolate menyoroti bahwa perubahan iklim telah berdampak nyata pada penurunan produktivitas kakao, peningkatan risiko gagal panen, dan potensi kelangkaan bahan baku. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga mengancam keberlanjutan usaha di hilir. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa tanggung jawab terhadap emisi karbon bukan sekadar kewajiban moral atau kepatuhan, melainkan bagian dari strategi menjaga resiliensi dan keberlanjutan bisnis jangka panjang.Gambar 7. Andri Setyowati, pemilik Nichoa Chocolate sekaligus peserta 1000 LCBM, memaparkan tentang usaha cokelatnya yang dirintis dari tahun 2018Kunjungan ini memberikan pembelajaran kontekstual bagi peserta bahwa isu iklim memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas rantai pasok, kualitas produk, dan keberlangsungan usaha.Climate Ambition Talks & Penguatan JejaringSebagai tindak lanjut dari Workshop 4, peserta mengikuti Climate Ambition Talks di Yogyakarta. Setiap organisasi mempresentasikan target iklim dan komitmen kepemimpinan yang telah disusun, mencakup sumber emisi utama, prioritas pengurangan, serta rencana jangka pendek dan menengah.Gambar 8. Perwakilan Perum Perhutani yang juga peserta 1000 LCBM, Jefri Gibson Nababan, menyampaikan hasil Climate Commitment mereka dalam 1000 LCBMSesi ini turut dihadiri oleh tamu pendengar dari JALA TECH, Asosiasi Pengusaha Kreatif Jaya, Innovative Academy UGM, serta Pemerintah Daerah DIY, memperkuat dialog lintas sektor dan peluang kolaborasi. Mereka juga menjadi penanggap untuk memberikan umpan balik konstruktif kepada peserta 1000 LCBM agar target yang dirumuskan tetap ambisius namun realistis dan terukur. Rangkaian kegiatan ditutup dengan Networking Lunch, yang menjadi ruang strategis untuk membangun kemitraan dan kolaborasi lanjutan dalam ekosistem 1000 LCBM.Membangun Fondasi UMKM Rendah Karbon di IndonesiaMenutup rangkaian kegiatan, Mohammad Naufal, Founder & CEO Carbon Addons, menegaskan komitmen Carbon Addons dalam mendampingi pelaku usaha menuju transformasi rendah karbon, “Kami merancang 1000 Low Carbon Brand Movement sebagai sebuah perjalanan keberlanjutan bagi setiap organisasi. Kami ingin memastikan setiap peserta tidak hanya memahami jejak karbonnya, tetapi juga mampu menerjemahkan data tersebut menjadi strategi bisnis yang tangguh dan relevan dengan tantangan iklim ke depan. Carbon Addons berkomitmen untuk terus mendukung transformasi ini dan membuka kolaborasi seluas-luasnya dengan mitra, pelaku usaha, pemerintah, dan komunitas yang ingin membangun ekosistem brand rendah karbon di Indonesia”, pungkasnya.Gambar 9. Peserta dan Organizer 1000 LCBMMelalui rangkaian workshop ini, peserta berhasil membangun carbon baseline, menyusun draft target pengurangan emisi selaras jalur 1.5°C, serta merumuskan komitmen climate leadership berbasis data. Lebih dari sekadar pelatihan teknis, 1000 LCBM menempatkan UMKM sebagai aktor penting dalam agenda iklim nasional, bukan hanya sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai pemimpin perubahan di tingkat bisnis dan komunitas. Program ini menegaskan bahwa transisi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia dapat dimulai dari UMKM, selama didukung oleh pendekatan berbasis sains, pendampingan yang tepat, dan ekosistem kolaboratif yang kuat.Penulis: Zafira AmaniPenyunting: Mohammad Naufal— — — — —Tentang Carbon AddonsCarbon Addons adalah climate tech startup yang berfokus pada aksi perubahan iklim melalui solusi teknologi inovatif dan platform netralitas karbon. Kami berkomitmen untuk mempermudah individu, bisnis, dan komunitas dalam mengukur, mereduksi, serta mengompensasi emisi karbon, sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan. Dengan pendekatan berbasis teknologi, Carbon Addons menyediakan sistem terintegrasi yang mendukung pelaporan karbon, pengurangan emisi, serta Carbon API yang dapat diadopsi oleh berbagai industri. Melalui kolaborasi dan inovasi, kami bertujuan menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.